FORTA TERDEPAN DAN TERPERCAYA DI NTB

Sabtu, 02 Juni 2012

ceramah tentang keutamaan ilmu



Keutamaan Ilmu, Mengajar dan Belajar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar temen-temen? Masih semangat dalam menuntut ilmu lewat media jejaring sosial (fb) ini?

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, kami ada referensi buku baru yang akan kami sharingkan ke temen-temen fillah sekalian, yakni Mukhtashar Ihya Ulumiddin. Meski buku ini hanya berupa mukhtashar alias ringkasan dari buku Ihya Ulumiddin yang aslinya berjumlah lima jilid, Akan tetapi ringkasan ini tidak kalah kaya dibandingkan dengan buku versi lengkapnya. Hal ini karena orang yang meringkas Ihya Ulumiddin tidak lain adalah pengarangnya sendiri. Dialah Imam Ghazali.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, kepada salah satu temen juga member , insya Allah, atas sarannya agar kami mempelajari buku yang luar biasa ini. Alhamdulillah karena Allah subhanahu wata’ala memberikan kemudahan kepada kami untuk mendapatkan buku ini.

Untuk pertama kalinya dari buku ini mengulas tentang ilmu. Kita simak sama-sama ya;
Keutamaan Ilmu, Mengajar dan Belajar
Tentang keutamaan ilmu, dalil-dalil dari Al-qur’an sangat banyak, diantaranya firman Allah Subhanahu wata’ala.,

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (al-Mujadalah [58]:11)
Ibnu Abbas berkata, “Derajat para ulama berada diatas kaum muslimin sejauh tujuh ratus derajat. Jarak antarderajat adalah (sejauh) tujuh ratus tahun.”

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar [39]:28)

“Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama…” (Faathir [35]:28)

Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Iman itu telanjang. Pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu.” (HR Ibnu Abi Syaibah)

“Orang yang berilmu adalah orang kepercayaan Allah di bumi.” (HR Dailami)

“Orang-orang yang dapat memberi syafaat pada hari kiamat adalah para Nabi, lalu para Ulama, lalu Syuhada.” (HR Ibnu Majah)

Fatah al-Mushili<1> berkata, “Bukankah apabila orang sakit tidak diberi makan, minum dan obat maka dia akan mati?” Lalu seseorang menjawab,”Benar.” Fatah berkata,”Begitu juga dengan hati. Apabila hati terhalang dari hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka hati tersebut akan mati.”

Perkataan Fatah merupakan suatu kebenaran. Makanan bagi hati adalah ilmu dan hikmah. Tetapi, hati yang tidak merasakan keduanya akibat kesibukan-kesibukan dunia, maka hal itu akan mematikan sensitifitasnya. Apabila kematian itu telah menyingkap kesibukan-kesibukan itu darinya maka dia akan merasakan siksaan besar dan penyesalan yang tidak berakhir. Inilah makna sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam.,

“Manusia itu tidur. Kemudian apabila mereka telah mati, mereka baru sadar.”

Tentang keutamaan belajar, dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.,

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada penuntut ilmu karena mereka ridha atas apa yang diperbuatnya.”<2> (HR Ahmaddan Tirmidzi)

“Jika kamu pergi pada pagi hari lalu mempelajari satu bab dari ilmu, maka hal itu lebih baik dari pada kamu shalat sebanyak seratus raka’at.” (HR Ibnu Majah)

Adapun keutamaan mengajar, dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala.,
“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu…’”(Ali ‘Imran [3]:81)

“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya…’” (Ali ‘Imran [3]:187)

Ketika membaca ayat tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah tidak menganugerahkan ilmu kepada seorang alim, kecuali Dia mengambil janji darinya, sebagaimana janji yang telah Ia ambil dari para Nabi, yaitu janji untuk menjelaskan ilmu tersebut dan tidak menyembunyikannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutus Mu’adz ke Yaman,
“Allah member i petunjuk melalui kamu kepada seorang laki-laki merupakan sesuatu yang lebih baik bagimu dari pada dunia dan segala isinya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad)

Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa menyampaikan sebuah hadits, lalu hadits itu diamalkan, maka ia mendapat pahala amal seperti pahala orang yang mengamalkan amal tersebut.”

Mu’adz bin Jabal berkata tentang mengajar dan belajar, dan hemat penulis (Imam Ghazali) perkataannya itu merupakan hadits marfu’, yaitu, “Pelajarilah ilmu. Sungguh, mempelajari ilmu untuk Allah merupakan suatu kebaikan, merupakan suatu ibadah, mengkajinya merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahuinya merupakan sedekah, dan medermakannya kepada ahlinya merupakan amal yang mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu merupakan teman dalam kesendirian, sahabat dalam kesepian, petunjuk menuju agama, pembentuk kesabaran dalam menghadapi kesenangan dan kesengsaraan, pembantu bagi orang-orang yang bersahabat, teman bagi orang-orang yang berteman dan penerang menuju ke surga…”
Dari ilmu, Allah ditaati, Allah disembah, Allah diEsakan. Dari ilmu pula, sifat wara’ dibentuk dan silaturahmi dijalin. Ilmu merupakan imam, sementara amal merupakan pengikutnya. Ilmu diilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia, dan diharamkan bagi orang-orang yang sengsara.

Adapun dari segi akal, keutamaan ilmu tidaklah samar. Dari ilmu, seorang hamba bisa mencapai Allah Subhanahu wata’ala; mendekatkan diri kepada-Nya dan bersimpuh di sisi-Nya. Dia merupakan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal yang tidak akan pernah berahir.

Semoga bermanfaat.

Note:
<1> Dia adalah Fatah bin Said al-Mushili yang meninggal pada 220 H. Lihat biografinya di dalam siyar A’lamin-Nubala (X/483), Tarikh Bagdad (XII/381), Jami’ Karamatil-Auliya’ (II/233), dan Hilyatul-Auliya’ (VIII/292)
<2> Makna meletakkan sayap-sayap adalah mereka (para malaikat) merendahkan diri mereka demi mengagungkan penuntut ilmu.

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Mukhtashar Ihya Ulumiddin, Imam Ghazali

sejarah dan frofil pondok pesantren darul quran bengkel lombok barat


M.Awaludin
Madrasah Aliyah Darul Qur'an merupakan salah satu Lembaga di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Qur'an Bengkel yang didirikan oleh Hadratus Syaikh Almarhum TGH.M. Shaleh Hambali. Lembaga ini berdiri sejak tahun 1989 pada waktu yang menjabat sebagai Kepala Pertama MA. Darul Qur'an adalah Drs. H. Achmad Izzi (1989 – 1990), selanjutnya tongkat estapet kepemimpinan dilanjutkan oleh GT. Usman (1990 – 2001), Drs. Suhaidi (2001 – 2008), dan H. Muhtasar, S.Pd. (2008 – sekarang). Adapun status lembaga ini adalah TERAKRIDITASI No. 28/Akr.MA/B/IV / 2006 yang dalam perkembangannya MA.Darul Qur'an saat ini telah membuka 3 Jurusan yaitu Jurusan Bahsa, IPA, dan IPS dimana lembaga ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung diantaranya Perpustakaan, Laboratorium Bahasa 16 KBU, dan Laboratorium Komputer 10 KBU. Jumlah guru 34 orang sesuai dengan spesialisanya. Pada tahun ajaran 2008/2009 jumlah siswa 312 siswa dengan perincian masing-masing kelas X 3 kelas, kelas XI 3 kelas, dan kelas XII tiga kelas. Pada Tahun Ajaran 2008/2009 Lembaga ini meluluskan siswa baik mereka yang duduk di jurusan Bahasa, IPA, maupun IPS dengan tingkat kelulusan 100 %. Kegiatan-kegiatan siswa : 1. Hari Jum'at IMTAQ diisi dengan Muhadlarah menggunakan 4 Bahasa (Indonesia, Inggris, Arab, dan Jepang) 2. Ekstrakulikuler diisi dengan Kepramukaan, Seni Bela Diri, dan Seni Baca Al-Qur'an Prestasi yang pernah diraih antara lain : 1. Juara I MTQ Tingkat Pelajar se-Kabupaten Lombok Barat 2. Juara I MTQ Tingkat Pelajar Se-Provinsi NTB 3. Juara I Lomba Menulis Essai Tingkat Nasional 4. Juara I Lomba Pencak Silat Antar Pelajara Tingkat Provinsi 5. Juara I Lomba Gerak Jalan Indah Tingkat Pelajar se-Desa Bengkel dan masih banyak prestasi-prestasi lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu Di era kepemimpinan Drs. Suhaidi, Lembaga ini telah menjadi Induk Kelompok Kerja Madrasah (KKM) yang menaungi kurang lebih 9 madrasah tingkat Aliyah meliputi wilayah kecamatan Labuapi, Kediri, dan Gerung.

Jumat, 04 Mei 2012

gander awal iain mataram fakultas dakwah

Page 1 Halaman 1 The World's Women 2010: Press Release #4 Dunia Wanita 2010: Siaran Pers # 4 Tradition, Culture and Lack of Education Tradisi, Budaya dan Kurangnya Pendidikan Influence the Way Women Are Treated Pengaruh Jalan Wanita Apakah Ditangani 1. 1. Customary practices and physical violence Adat praktek dan kekerasan fisik The proportion of women exposed to physical violence in their lifetime, irrespective Proporsi perempuan mengalami kekerasan fisik dalam hidup mereka, terlepas of the perpetrator, ranges from 12 per cent in Hong Kong SAR, China and 13 per pelaku, berkisar dari 12 persen di Hong Kong SAR, Cina dan 13 per cent in Azerbaijan to about a half or more in Australia and Mozambique (48 per persen di Azerbaijan untuk sekitar setengah atau lebih di Australia dan Mozambik (48 per cent), the Czech Republic (51 per cent) and Zambia (59 per cent) (comparable persen), Republik Ceko (51 persen) dan Zambia (59 persen) (sebanding statistics were only available for some thirty countries or areas). statistik hanya tersedia untuk beberapa tiga puluh negara atau daerah). According to The Menurut The World's Women 2010 report ( published today 20-10-2010 by the UN Statistics Dunia Wanita 2010 laporan (diterbitkan hari ini 20-10-2010 oleh Statistik PBB Division), which calls violence against women "a universal phenomenon", over one- Divisi), yang menyerukan kekerasan terhadap perempuan "fenomena universal", lebih dari satu tenth of women report having experienced abuse over the last twelve months in sepersepuluh dari wanita melaporkan mengalami penyalahgunaan berpengalaman selama dua belas bulan terakhir di Costa Rica, the Republic of Moldova, the Czech Republic and Mozambique. Kosta Rika, Republik Moldova, Republik Ceko dan Mozambik. The report Laporan ini emphasizes that though violence against women is perpetrated by men, it is also menekankan bahwa meskipun kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh laki-laki, juga perpetuated by traditional and customary practices that accord women lower status diabadikan oleh praktek-praktek tradisional dan adat bahwa wanita sesuai status yang lebih rendah in the family, workplace, community and society. dalam keluarga, tempat kerja, komunitas dan masyarakat. Furthermore, violence against Selain itu, kekerasan terhadap women is exacerbated by social pressures. (Pages 127 and 131) wanita ini diperburuk oleh tekanan sosial. (Halaman 127 dan 131) 2. 2. Genital mutilation among the less-educated Genital mutilasi antara kurang berpendidikan The World's Women's chapter on violence against women reveals that although Bab Wanita di Dunia tentang kekerasan terhadap perempuan mengungkapkan bahwa meskipun female genital mutilation continues to be widely performed, it does appear to be mutilasi alat kelamin perempuan terus banyak dilakukan, itu tampaknya decreasing slightly. menurun sedikit. In the majority of countries for which data were available, the Pada kebanyakan negara-negara yang datanya yang tersedia, decline seems to be reflected more in younger generations of women and girls. penurunan tampaknya tercermin lebih pada generasi muda perempuan dan anak perempuan. Additionally, findings show that prevalence levels are generally lower among women Selain itu, temuan menunjukkan bahwa tingkat prevalensi umumnya lebih rendah di kalangan perempuan with higher education. (Pages 135-136) dengan pendidikan tinggi. (Halaman 135-136) 3. 3. Attitude towards domestic violence in Africa Sikap terhadap kekerasan dalam rumah tangga di Afrika The World's Women 2010 reports the percentages of women in 33 countries (where Dunia Wanita 2010 laporan persentase perempuan di 33 negara (di mana statistics are available) that found it appropriate for a wife to be hit or beaten by her statistik yang tersedia) yang merasa sesuai untuk istri yang akan memukul atau dipukul oleh dia husband for specific reasons. suami karena alasan tertentu. Around 29 per cent of women agreed that being hit or Sekitar 29 persen wanita sepakat bahwa yang memukul atau beaten for arguing with the husband was justifiable, 25 per cent for refusing to have dipukuli untuk berdebat dengan suami dibenarkan, 25 persen karena menolak untuk memiliki sex with the husband and 21 per cent for burning the food. seks dengan suami dan 21 persen untuk membakar makanan. For example, 74 per cent Sebagai contoh, 74 persen of women in Mali would accept physical punishment for refusing to have sex with the perempuan di Mali akan menerima hukuman fisik karena menolak berhubungan seks dengan husband, 62 per cent in the case of arguing with him and 33 per cent for burning suami, 62 persen dalam hal berdebat dengan dia dan 33 persen untuk membakar food. makanan. In the majority of countries arguing with the husband is the most commonly Pada kebanyakan negara berdebat dengan suami adalah yang paling umum accepted reason for being hit or beaten. menerima alasan dipukul atau dipukuli. In Benin, while 51 per cent of interviewed Di Benin, sementara 51 persen yang diwawancarai women with no education found it justifiable for the husband to beat his wife for wanita dengan pendidikan tidak merasa dibenarkan untuk suami untuk memukul istrinya untuk venturing outside without telling him, that number dropped to 39 per cent when the venturing luar tanpa memberitahu dia, jumlah itu menurun menjadi 39 persen ketika interviewee had a primary education and to 20 per cent with a secondary or higher diwawancarai memiliki pendidikan dasar dan sampai 20 persen dengan sekunder atau lebih tinggi education. (Page 137) pendidikan. (Page 137) 4. 4. Unfair sharing of domestic work Tidak Sehat berbagi pekerjaan rumah tangga Cultural perceptions of women's and men's roles also play an important part in the Persepsi budaya perempuan dan peran laki-laki juga memainkan peranan penting dalam unequal sharing between the sexes of domestic work. yang tidak sama berbagi antara jenis kelamin pekerjaan rumah tangga. The report's chapter on work Laporan ini bab tentang pekerjaan confirms that women's increased participation in paid employment has not been menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam pekerjaan yang dibayar belum accompanied by an increase in men's participation in unpaid domestic work disertai dengan peningkatan partisipasi laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar (comprised mainly of housework and caring for dependent household members). (Terutama terdiri dari pekerjaan rumah tangga dan merawat anggota rumah tangga tergantung). In Di ________________________________________ Page 2 Halaman 2 the more developed regions, women spend an average of almost five hours a day on daerah lebih berkembang, wanita menghabiskan rata-rata hampir lima jam sehari di domestic work, whereas men spend on average less than two and a half hours a day pekerjaan rumah tangga, sedangkan pria menghabiskan rata-rata kurang dari dua setengah jam sehari on this, or half the amount of time spent by women. ini, atau setengah jumlah waktu yang dihabiskan oleh perempuan. In Italy, Japan, Portugal and Di Italia, Jepang, Portugal dan Spain for instance, women spend three- to four-fold the amount of time spent by Spanyol misalnya, wanita menghabiskan tiga sampai empat kali lipat jumlah waktu yang dihabiskan oleh men on domestic work. laki-laki pada pekerjaan domestik. In the Occupied Palestinian Territory, Pakistan and Turkey, Di Wilayah Pendudukan Palestina, Pakistan dan Turki, the time men spend on domestic work is not even a fifth of what women spend. saat pria menghabiskan tentang pekerjaan rumah tangga bahkan tidak seperlima dari apa yang wanita menghabiskan. In Di both Latin America and Africa women spend far more than twice the time men spend kedua Amerika Latin dan wanita Afrika menghabiskan jauh lebih dari dua kali laki-laki menghabiskan waktu on unpaid domestic work. tentang pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. In the Nordic countries and the United States of America, Di negara-negara Nordik dan Amerika Serikat, where time use studies over a number of years allow long-term comparisons, mana studi penggunaan waktu selama beberapa tahun memungkinkan jangka panjang perbandingan, findings indicate that the number of hours spent by the average woman on Temuan menunjukkan bahwa jumlah jam yang dihabiskan oleh wanita rata-rata pada household work has decreased while that spent by the average man has increased. pekerjaan rumah tangga telah menurun sementara yang dikeluarkan oleh pria rata-rata telah meningkat. (Page 100) (Page 100) 5. 5. No say on spending their own earnings Tidak mengatakan untuk menghabiskan pendapatan mereka sendiri The report's chapter on poverty reveals that married women are often not involved Bab ini laporan tentang kemiskinan mengungkapkan bahwa perempuan yang sudah menikah sering tidak terlibat in decision-making on how their own earnings are spent. dalam pengambilan keputusan tentang bagaimana penghasilan mereka sendiri dihabiskan. In sub-Saharan Africa, the Di sub-Sahara Afrika, proportion of women with no say in how their own cash income is spent is greatest in proporsi wanita tanpa mengatakan dalam bagaimana pendapatan tunai mereka sendiri dihabiskan paling besar di Malawi (34 per cent) followed by Democratic Republic of the Congo (28 per cent), Malawi (34 persen) diikuti oleh Republik Demokratik Kongo (28 persen), Liberia (23 per cent), Rwanda (22 per cent) and United Republic of Tanzania and Liberia (23 persen), Rwanda (22 persen) dan Tanzania dan Zambia (21 per cent). Zambia (21 persen). In Asia, higher proportions were observed in India (18 per Di Asia, proporsi yang lebih tinggi diamati di India (18 per cent), Nepal (14 per cent), Bangladesh (13 per cent) and Turkey (11 per cent). persen), Nepal (14 persen), Bangladesh (13 persen) dan Turki (11 persen). It is Hal ini noted that these proportions are higher for women in the poorest families. mencatat bahwa proporsi ini lebih tinggi bagi perempuan dalam keluarga termiskin. Less Kurang access to financial resources increases women's economic dependency on men and akses ke sumber daya keuangan meningkatkan ketergantungan ekonomi perempuan terhadap pria dan make them more vulnerable to various economic and environmental shocks. (Pages membuat mereka lebih rentan terhadap guncangan ekonomi dan lingkungan yang beragam. (Halaman 170-173) 170-173) 6. 6. Deprived of inheritance rights and ownership Kehilangan hak waris dan kepemilikan In most African countries and about half the countries in Asia, women are Di sebagian besar negara Afrika dan sekitar setengah negara di Asia, perempuan disadvantaged by statutory and customary laws in their access to land ownership dirugikan oleh undang-undang hukum dan adat dalam akses mereka terhadap kepemilikan tanah and other types of property. dan jenis-jenis properti. This denial of inheritance and land ownership rights, Ini penolakan warisan dan hak kepemilikan tanah, based on traditional cultural norms or practices, contribute to women's poverty. The berdasarkan norma-norma budaya tradisional atau praktik, memberikan kontribusi terhadap kemiskinan perempuan. Para World's Women 2010 has identified elements of gender inequality with regard to Dunia Wanita 2010 telah diidentifikasi unsur ketidaksetaraan gender berkaitan dengan inheritance rights in 45 out of the 48 African countries reviewed and in 25 out of the hak waris di 45 dari 48 negara Afrika ditinjau dan di 25 dari 42 reviewed in Asia. 42 terakhir di Asia. With regard to land ownership entitlements, gender inequality Berkenaan dengan hak kepemilikan tanah, ketidaksetaraan gender was identified in 43 African and 21 Asian countries. diidentifikasi dalam 43 Afrika dan 21 negara Asia. In rural areas of Viet Nam, 8 per Di daerah pedesaan di Vietnam, 8 per cent of farm and forest land titles are in the name of women, 87 per cent in the persen dari pertanian dan judul hutan tanah atas nama wanita, 87 persen di name of men and 5 per cent are joint titles. nama pria dan 5 persen adalah gelar bersama. While 88 per cent of households in Nepal Sementara 88 persen rumah tangga di Nepal are home owners, only 6 per cent of these women have partial or full ownership of adalah pemilik rumah, hanya 6 persen dari perempuan memiliki kepemilikan penuh atau sebagian the house. rumah. Similarly, women own land in only 11 per cent of the households and Demikian juga perempuan tanah di hanya 11 persen dari rumah tangga dan sendiri livestock in only 7 per cent. ternak di hanya 7 persen. In Peru, the distribution of ownership of titled land Di Peru, distribusi kepemilikan tanah berjudul parcels reveals that women represent only 13 per cent of landowners, with an paket mengungkapkan bahwa perempuan hanya mewakili 13 persen dari pemilik tanah, dengan additional 13 per cent joint ownership. (Pages 169-170) tambahan 13 persen kepemilikan bersama. (Halaman 169-170) For further information or to arrange interviews, contact Francois Coutu, Untuk informasi lebih lanjut atau mengatur wawancara, kontak Francois Coutu, Public Information Officer, UN Statistics Division, Tel: +1-212-963-2631, Email: Informasi Publik Officer, PBB Statistik Divisi, Telp: +1-212-963-2631, Email: coutu@un.org . coutu@un.org~~V. After embargo time, the report will be posted online on Setelah waktu embargo, laporan ini akan diposting online di http://unstats.un.org/unsd/demographic/products/Worldswomen/WW2010pub.htm . http://unstats.un.org/unsd/demographic/products/Worldswomen/WW2010pub.htm. Hard copies of The World's Women 2010 report are available as a sales item from United Hard copy laporan 2010 Perempuan di Dunia tersedia sebagai item penjualan dari Amerika Nations Publications ( https://unp.un.org/Browse.aspx?newtitle=1 ). Bangsa Publikasi (https://unp.un.org/Browse.aspx?newtitle=1).

Minggu, 15 April 2012

Video yang telah di import akan ditampilkan seperti dibawah ini

Cara menggunakan adobe premiere pro ________________________________________ Adoba premiere merupakan salah satu software video editing unggulan yang kerap digunakan dalam dunia perfilman. Banyak fitur yang bisa anda gunakan didalamnya, mulai dari fitur sederhana sampai dengan fitur yang lebih profesional yang pastinya bikin bingung orang awam, termasuk saya.. :D Berikut saya jelaskan cara paling dasar dalam menggunakan adobe premiere.... Disini akan dibahas cara membuat project baru, mengimport, export dan encoding video. Jadi untuk teknik editing dan info-info yang lebih detil akan saya bahas di postingan selanjutnya.. Buka dulu adobe premiere anda. Software ini tergolong berat, jadi bagi spek komputer yang rendah akan kesulitan menggunakannya. Klik new project maka akan muncul menu ini. Kasih nama project anda kemudian OK Selanjutnya akan ada profile atau preset project. Pilih sesuai dengan kategori video yang akan anda edit. Umumnya DV NTSC atau DV PAL dengan resolusi sekitaran 720x480. Setelah itu anda akan dihadapkan pada workspace kosong beserta timeline editing. Import video anda dengan klik kanan import pada tab project di kiri atas. Adobe premiere terkadang tidak mendukung format *.mp4 jadi bagi yang videonya berformat MP4 bisa di convert dulu jadi format MPEG atau AVI. Video yang telah di import akan ditampilkan seperti dibawah ini Langkah selanjutnya, anda drag video terebut ke area timeline. Di area ini maka video sudah siap diedit. Preview video bisa anda lihat di preview pane pada jendela kanan atas. Video anda telah siap diedit? kini anda tinggal meng-export kemudian meng-encode video tersebut. Pilih menu export - media seperti gambar berikut Maka akan muncul export setting dengan beragam preset. Biar tidak pusing, anda pilih saja salah satu preset tersebut. Resolusinya disarankan sama dengan video awal. Kalau anda mengerti, bisa setting sendiri outputnya sesuai yang diinginkan. Setelah itu klik OK Akan muncul jendela adobe media encoder yang bertugas meng-encode video anda sesuai settingan export tadi. Project anda akan masuk list antri dengan status waiting. Klik tombol start queue maka proses encoding akan berjalan... :D Semoga tutorial ini berguna, walau cuma basic.. :D Terus terang, lebih mudah memakai corel video studio daripada adobe premiere.. Namun untuk soal fitur jelas adobe premiere lebih banyak

Rabu, 04 April 2012

SEJARAH PROFIL DAN VISI MISI

PONDOK PESANTREN NURUL HARAMAIN NW PUTRA NARMADA Pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada, berdiri sejak tahun 1991. Merupakan salah satu lembaga pendidikan islam terkemuka di Indonesia. Terletak di jalan tegal bayu desa lembuak kecamatan narmada kabupaten Lombok barat provinsi nusa tenggara barat. Keberadaan pondok pesantren nurul haramain nw putra narmada, tidak bisa di pisahkan dengan sejarah perjalannaya pondok pesantren nurul haramain nw putra narmada. Sebab sebagai induknya. Cikal bakal pondok pesantren haramain nw putra narmada berawal tahun 50 an, ketika masyarakat narmada di bawah pimpinan camat Arun admi ketika itu menjawab sebagai camat narmada. Mendirikan lembaga keagamaan yang fungsinya utama untuk meluruskan pemahaman masyarakat narmada di kla itu. Untuk memfungsikan jamaah narmada, mereka pun meminta bantuan tenaga pendidik kepada al magfirullah syekh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid seorang pendiri pondok pesantren nw pancor Lombok timur. Atas perintah maulana syekh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid beliau mengutus dua orang tuan guru muda yaitu TGH.M.Djuaini Mukhtar dan TGH. Mahad bin H. Adnan untuk langsung berangkat kenarmada. Pada tanggal 18 agustus 1951 kedua tuan guru itu langsung membentuk lembaga pendidika madrasah iftida’iyah dengan nama Nurul Huda. Pada tahun 1963 madrasah Nurul Huda di ganti namanya dengan menjadi PGA NW. Kemudian guna untuk menyesuaikan dengan peraturan pemerintah, maka pada tahun 1977 PGA NW Narmada di rubah menjadi Madrasah Stanawiyah dan Madrasah Aliayah NW narmada yang kemudian hari di kembangkan menjadi Madrasah Stanawiyah NW narmada putra dan putri. Kemudian dengan maksud meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan madrasah Stanawiyah dan Aliyah. Maka pada tahun 1991 pengurus yayasan pondok pesantren NW Narmada, membentuk lembaga kusus pondok pesantren dengn nama “ Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Putra dan Putri Narmada”. Lembaga pondok ini bertanggung jawab menjalankan pendidikan formal maupun non formal dengan system asas agama. Adapun visi misi pondok pesatren nurul haramain nw putra narmada yaitu visinya adalah terlahirnya generasi muslim yang kaffah, berkualitas, dan berguna bagi umat. Sedangkan misinya dari pondok pesantren Nurul Haramain NW putra Narmada adalah membentuk pribadi muslim yang kaffah, berpegang teguh pada agama, istiqomah, maupun bertafaqquh dan berjuang fiddin, serta membe ntuk pribadi yang teguh berakhlak mulia, ikhlas dalam berjuang, trampil dan mampu menghadapi massa depan . demikian misi yang di tanamakan oleh kia’yi dan pembimbing pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada. Guna menciptkan generasi yang kaffah, berkualitas dan berguna bagi umat tersebut di atas. Pemahaman dan pengamalan ilmu agama pendidikan kepemimpinan, penguasan bahasa asing serta kecakapan menggunakan teknologi informatika. Merupakan perhataian yang utama oleh para pembimbing di pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada bagi santri-santrinya. Pondok pesantren Nurul Haramain NW putra Narmada saat ini di pimpin oleh tiga pemipin bersaudara yaitu : 1.TGH. Husaini Djuaini. Lc.M.Hum 2. Ustaz. H. Khairi Habibullah. S.Ag 3. Ustaz. H. Khalilurrahman. S.Ag Ketiganya merupakan putra dari Al- Magfirullah TGH. Muhammad Djuaini Mukhtar seorang pimpinan pondok pesantren NW Narmada. PROFIL KURIKULUM PENDIDIKAN DAN KEGITAN Pondok pesatren Nurul Haramain NW Putra Narmada, saat ini mengelola dua lembaga pendidikan yaitu Madrasah Stanawiyah dan Madrasah Aliyah NW Narmada Putra dan putri. Madrasah stsanawiayah di kepalai oleh H. Ahmad Syaifudin. S.Pd. Sedangkan madrasah Aliyah di kepalai oleh H.Ahmad Dahlan. SH. Adapun kurikulum pendidikan yang di gunakan adalah integritas dari kurikulum kepondodkan . Kurikulum Departem Agama RI 1. AL-QUR’AN HADIST 2. AQIDAH AKHLAK 3. FIQIH 4. SKI ( Sejarah Kebudayaan Islam) 5. BAHASA ARAB 6. BAHASA INDONESIA 7. BAHASA INGGRIS 8. PPKN 9. MATEMATIKA 10. BIOLOGI 11. FISIKA 12. IPS 13. PENJASKES 14. SOSIOLOGI 15. SEJARAH BUDAYA Kurikulum Kepondokan 1. IMLA’ 2. MUTHOLA’AH 3. TAMRIMULAGGAH 4. MUHADATSAH 5. FARA’ID 6. USUL FIQH 7. NAHWU 8. SHARF 9. READING 10. COMVERSATION 11. MAHFUDZON 12. TAZWID 13. KOMPUTER 14. KESENIAN KHOT Tujuannya adalah untuk menciptakan alumni-alumni yang mampu menghadapi zaman. Guna menciptakan pendidikan yang efektif dan efisien serta terencana. Pengasuh pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada menyusun kegiatan santri dalam bentuk harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan harian yang dimulai pada pukul 04.00 WITA dan berakhir pada pukul 10.00 WITA. Malam. Kegiatan harian 1. Shalat subuh berjamah 2. Latihan bahasa arab dan inggris 3. Mandi, sarapan shalat duha 4. Masuk kelas 5. Shalat zuhur berjamaah 6. Makan siang 7. Masuk kelas 8. Shalat ashar berjamaah 9. Baca al-qur’an 10. Shalat magrib berjamaah 11. Baca al-qur’an 12. Shalat isa berjamaah 13. Makan malam 14. Belajar malam 15. Istirahat Mingguan 1. Hiziban dan al barzanji 2. Pengajian umum 3. Jumat bersih 4. Penulisan madding 5. Latihan berpidato 6. Latihan kepramukaan 7. Morning puzzle Bulanan Dua minggu bahasa arab dan dua minggu bahasa inggris. Tahunan 1. Pembukaan olahraga dan seni di sertai dengan perlombaan. 2. Latihan baris berbaris 3. Apel 4. Pentas seni 5. Drama area 6. Kuliah umum kepondokan 7. Lomba pidato bahasa asing 8. Pergatian pengurus organisasi 9. Yudisium 10. Peringanta hari-hari besar islam Fasilitas sarana dan prasarana Kelengkapan fasislitas sarana dan prasarana belajar santri merupakan sarana salah satu perhatian utama pengurus pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada. Ada pun fasilitas sarana dan prasarana yang di miliki oleh pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada meliputi : 1. Masjid dan mushala 2. Kantor KMI 3. Ruang belajar 4. Laboratorium multi media 5. Laboratorium computer 6. Laboratorum bahasa 7. Asrama santri 8. Kantor organisasi 9. Perpustakaan digital 10. Local area network 11. Studio music 12. Marsing band 13. Kantin dan koperasi 14. Dapur 15. Kamar mandi ideal banyak jumlah santri 16. Lapanagan olahraga. Prestasi dan Alumni Berbagai macam prestasi di bidang agama akademis, olahraga, seni dan bidang kepramukaan bai bertarap local maupun nasional yang di raih oleh santri-santri di pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada. Selain itu kiprah pondok pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada tidak hanya di wilayah local melainkan sudah nasional. Hal ini terbukti sudah banyaknya alumni pondok pesantren ini yang mampu berkiprah dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri seperti Saudi Arabia, Yaman, Amerika Serikat, Belanda, Malysia, Mesir dan Jepang. Serta di perguruan ternama di Indonesia. Semua iti merupakan hasil asuhan dan bimbingan yang ikhlas dan istiqomah dari para pengurus ustaz dan ataziz pondok pesantren Nurul Haramaian NW Putra Narmada.

Senin, 02 April 2012

Pernahkah anda kenal dg anti virus yang bernama ARTAV..!!

Pernahkah anda kenal dg anti virus yang bernama ARTAV..!! atau AV yg lainnya.. Mungkin sekarang kita g heran lagi yg kayak gtuan.. Contohnya yg baru ini,ada lagi blog tetangga yg share antivirus buatan dia(ngakunya dia).. Emang Sekarang kehadiran para virus maker (–selanjutnya disingkat jadi VM saja) lokal telah membuat gerah para user komputer tanah air. Bisa dibayangkan bila dari sekian banyak virus lokal tidak satu-dua yang menghancurkan data (terutama bagi file office; word, excel, dll…). Bagi para vendor Anti Virus (–selanjutnya disingkat menjadi AV saja) fenomena ini adalah lahan bisnis untuk produk mereka. Sebut saja NORMAN, yang kini men-support perusahaan konsultan virus lokal (–VAKSIN.COM) , Symantec, McAffe, NOD32, dan sebagainya. Dengan menawarkan update definisi software AV tercepat, engine scanner paling sensitif, dan lain-lain merupakan kiat untuk memancing para korban virus membeli dan menggunakan software AV mereka. Bagi penulis sendiri hal ini memang agak memberatkan mengingat update file definisi atau engine AV tsb haruslah melalui koneksi internet. Lalu bagaimana yang tidak mempunyai akses sama sekali? Konsekuensinya iyalah tertinggal dalam hal pengenalan varian virus baru yang pada ujung-ujungnya membuat AV yang sudah terinstall bagai 'Macan Ompong'. Kalau kita membuat AV sendiri bagaimana? dengan database definisi yang bisa diupdate oleh kita bahkan dapat saling tukar dengan teman? Bisa saja, dengan syarat mau mempelajari sedikit teknik pemograman. Jadi intinya sekarang Gua kasih bocoran dkt buat kalian,, gimana mereka melakukannya..yook mulai... Pertama kita harus mengerti bagaimana cara kerja sebuah AV sederhana, pada dasarnya sebuah software AV mempunyai komponen-komponen : 1. Engine scanner, ini merupakan komponen utama AV dalam mengenali sebuah pattern virus. Engine ini dapat dikelompokkan menjadi statis dan dinamis. Statis dalam hal ini dapat disebut menjadi spesifik terhadap pattern tertentu dari sebuah file virus. Checksum merupakan salah satu contoh dari engine statis ini. Dinamis dalam artian dia mengenali perilaku 'umum' sebuah virus. Heuristic menjadi salah satu contohnya. 2. Database definition, menjadi sebuah referensi dari sebuah pattern file virus. Engine statis sangat bergantung kepada komponen ini. 3. Decompress atau unpacking engine, khusus untuk pengecekan file-file yang terkompresi (*.rar, *.zip, dll) atau kompresi atau packing untuk file PE seperti UPX, MeW , dll. Tidak jarang hasil dari pengecekan terhadap file suspect virus menghasilkan false-positive bahkan false-negative (– false-positive berarti file yang bersih dianggap thread oleh AV, dan false-negative berarti file yang 100% thread akan dianggap bersih). Semua itu dapat diakibatkan oleh ketidak-sempurnaan dari engine scanner itu sendiri. Misal pada contoh kasus Engine String scanner (–Engine scanner yang menyeleksi string-string dari file text-based), bila diterapkan rule 3 out of 5 (– bila AV menemukan 3 dari daftar 5 string kategori malicious) maka AV akan memberikan bahwa file terindikasi sebuah thread yang positif. Padahal file tsb nyatanya tidak menimbulkan efek berbahaya bila dijalankan atau dieksekusi. Kesalahan scanning macam ini lazim ditemukan untuk file-file *.VBS, *.HTML, dll. Untuk penggunaan engine checksum sangat banyak ditemui di beberapa software AV lokal. Checksum yang lazim digunakan diantaranya CRC16, CRC32, MD5, dll. Dikarenakan mudah untuk diimplementasikan. Engine ini sendiri bukannya tanpa cacat, Checksum bekerja dengan memproses byte demi byte dari sebuah file dengan sebuah algoritma tertenu (– tergantung dari jenis checksum yang digunakan) sehingga menghasilkan sebuah format tertentu dari file tsb. Contoh checksum menggunakan CRC32 dan MD5 : * calCrc = CRC32(file_name_and_path) * calMD5 = MD5(file_name_and_path) Maka isi dari string calCrc adalah 7AF9E376, sedangkan untuk MD5nya adalah 529CA8050A00180790CF88B63468826A. Perlu diketahui bila virus menerapkan rutin yang mengubah byte tertentu dari badan virus tsb setiap kali maka penggunaan engine checksum ini akan kurang optimal karena bila 1 byte berubah dari file maka checksum juga akan berubah. Mari kita belajar membuat sebuah AV sederhana, yang diperlukan : 1. Software Visual Basic 6.0 2. Sedikit pemahaman akan pemograman Visual Basic 6.0 3. Sampel file bersih atau virus (– opsional) First# Sekarang kita akan belajar membuat sebuah rutin sederhana untuk : - Memilih file yang akan dicek - Membuka file tersebut dalam mode binary - Memproses byte demi byte untuk menghasilkan Checksum Buka MS-Visual Basic 6.0 anda, lalu buatlah sebuah class module dan Form dengan menambahkan sebuah objek Textbox, CommonDialog dan Command Button. (Objek CommonDialog dapat ditambahkan dengan memilih Project -> COmponent atau Ctrl-T dan memilih Microsoft Common Dialog Control 6.0) Ketikkan kode berikut pada class module (kita beri nama class module tsb clsCrc) : ================= START HERE ==================== Private crcTable(0 To 255) As Long 'crc32 Public Function CRC32(ByRef bArrayIn() As Byte, ByVal lLen As Long, Optional ByVal lcrc As Long = 0) As Long 'bArrayIn adalah array byte dari file yang dibaca, lLen adalah ukuran atau size file Dim lCurPos As Long 'Current position untuk iterasi proses array bArrayIn Dim lTemp As Long 'variabel temp hasil perhitungan If lLen = 0 Then Exit Function 'keluar fungsi apabila ukuran file = 0 lTemp = lcrc Xor &HFFFFFFFF For lCurPos = 0 To lLen lTemp = (((lTemp And &HFFFFFF00) \\ &H100) And &HFFFFFF) Xor (crcTable((lTemp And 255) Xor bArrayIn(lCurPos))) Next lCurPos CRC32 = lTemp Xor &HFFFFFFFF End Function Private Function BuildTable() As Boolean Dim i As Long, x As Long, crc As Long Const Limit = &HEDB88320 For i = 0 To 255 crc = i For x = 0 To 7 If crc And 1 Then crc = (((crc And &HFFFFFFFE) \\ 2) And &H7FFFFFFF) Xor Limit Else crc = ((crc And &HFFFFFFFE) \\ 2) And &H7FFFFFFF End If Next x crcTable(i) = crc Next i End Function Private Sub Class_Initialize() BuildTable End Sub ================= END HERE ==================== Lalu ketikkan kode berikut dalam event Command1_Click : ================= START HERE ==================== Dim namaFileBuka As String, HasilCrc As String Dim CCrc As New clsCrc 'bikin objek baru dari class ClsCrc Dim calCrc As Long Dim tmp() As Byte 'array buat file yang dibaca Private Sub Command1_Click() CommonDialog1.CancelError = True 'error bila user mengklik cancel pada CommonDialog CommonDialog1.DialogTitle = "Baca File" 'Caption commondialog On Error GoTo erorhandle 'label error handle CommonDialog1.ShowOpen namafilbuka = CommonDialog1.FileName Open namafilbuka For Binary Access Read As #1 'buka file yang dipilih dengan akses baca pada mode binary ReDim tmp(LOF(1) - 1) As Byte 'deklarasi ulang untuk array, # Bugs Fixed # Get #1, , tmp() Close #1 calCrc = UBound(tmp) 'mengambil ukuran file dari array calCrc = CCrc.CRC32(tmp, calCrc) 'hitung CRC HasilCrc = Hex(calCrc) 'diubah ke format hexadesimal, karena hasil perhitungan dari class CRC masih berupa numeric Text1.Text = HasilCrc 'tampilkan hasilnya Exit Sub erorhandle: If Err.Number <> 32755 Then MsgBox Err.Description 'error number 32755 dalah bila user mengklik tombol cancel pada saat memilih file ================= END HERE ==================== COba anda jalankan program diatas dengan memencet tombol F5, lalu klik Command1 untuk memilih dan membuka file. Maka program akan menampilkan CRC32nya. Second# Kode diatas dapat kita buat menjadi sebuah rutin pengecekan file suspect virus dengan antara membandingkan hasil CRC32nya dan database CRC kita sendiri. Algoritmanya adalah : - Memilih file yang akan dicek - Membuka file tersebut dalam mode binary - Memproses byte demi byte untuk menghasilkan Checksum - Buka file database - Ambil isi file baris demi baris - Samakan Checksum hasil perhitungan dengan checksum dari file Format file database dapat kita tentukan sendiri, misal : - FluBurung.A=ABCDEFGH - Diary.A=12345678 Dimana FluBurung.A adalah nama virus dan ABCDEFGH dalah Crc32nya. Jika kita mempunyai format file seperti diatas, maka kita perlu membaca file secara sekuensial per baris serta memisahkan antara nama virus dan Crc32nya. Dalam hal ini yang menjadi pemisah adalah karakter '='. Buat 1 module baru (– diberi nama module1) lalu isi dengan kode : ================= START HERE ==================== Public namaVirus As String, CrcVirus As String 'deklarasi variabel global untuk nama dan CRC virus Public pathExe as String 'deklarasi variabel penyimpan lokasi file EXE AV kita Public Function cariDatabase(Crc As String, namaFileDB As String) As Boolean Dim lineStr As String, tmp() As String 'variabel penampung untuk isi file Open namaFileDB For Input As #1 'buka file dengan mode input Do Line Input #1, lineStr tmp = Split(lineStr, "=") 'pisahkan isi file bedasarkan pemisah karakter '=' namaVirus = tmp(0) 'masukkan namavirus ke variabel dari array CrcVirus = tmp(1) 'masukkan Crcvirus ke variabel dari array If CrcVirus = Crc Then 'bila CRC perhitungan cocok/match dengan database cariDatabase = True 'kembalikan nilai TRUE Exit Do 'keluar dari perulangan End If Loop Until EOF(1) Close #1 End Function ================= END HERE ==================== Lalu tambahkan 1 objek baru kedalam Form, yaitu Command button2. lalu ketikkan listing kode berikut kedalam event Command2_Click : ================= START HERE ==================== If Len(App.Path) <= 3 Then 'bila direktori kita adalah root direktori pathEXE = App.Path Else pathEXE = App.Path & "\\" End If CommonDialog1.CancelError = True 'error bila user mengklik cancel pada CommonDialog CommonDialog1.DialogTitle = "Baca File" 'Caption commondialog On Error GoTo erorhandle 'label error handle CommonDialog1.ShowOpen namafilbuka = CommonDialog1.FileName Open namafilbuka For Binary Access Read As #1 'buka file yang dipilih dengan akses baca pada mode binary ReDim tmp(LOF(1) - 1) As Byte 'deklarasi ulang untuk array # Bugs Fixed # Get #1, , tmp() Close #1 calCrc = UBound(tmp) 'mengambil ukuran file dari array calCrc = CCrc.CRC32(tmp, calCrc) 'hitung CRC HasilCrc = Hex(calCrc) 'diubah ke format hexadesimal, karena hasil perhitungan dari class CRC masih berupa numeric If cariDatabase(HasilCrc, pathEXE & "DB.txt") Then 'bila fungsi bernilai TRUE MsgBox "Virus ditemukan : " & namaVirus 'tampilkan message Box End If Exit Sub erorhandle: If Err.Number <> 32755 Then MsgBox Err.Description 'error number 32755 dalah bila user mengklik tombol cancel pada saat memilih file ================= END HERE ==================== Fitur AV sederhana ini dapat ditambahkan dengan fitur process scanner, akses registry, real-time protection (RTP) dan lain lain. Untuk process scanner pada dasarnya adalah teknik enumerasi seluruh proses yang sedang berjalan pada Sistem Operasi, lalu mencari letak atau lokasi file dan melakukan proses scanning. Fitur akses registry memungkinkan kita untuk mengedit secara langsung registry windows apabila akses terhadap registry (–Regedit) diblok oleh virus. Sedangkan fitur RTP memungkinkan AV kita berjalan secara simultan dengan windows explorer untuk mengscan direktori atau file yang sedang kita browse atau lihat. Untuk ketiga fitur lanjutan ini akan dibahas pada artikel selanjutnya. Kesimpulan# Tidak harus membeli software AV yang mahal untuk menjaga komputer kita dari ancaman virus, kita bisa membuatnya sendiri dengan fitur-fitur yang tak kalah bagusnya. Memang terdapat ketidaksempurnaan dalam AV buatan sendiri ini, tetapi setidaknya dapat dijadikan pencegah dari infeksi virus komputer yang semakin merajalela. Software AV sederhana ini dilengkapi oleh engine scanner statis dan database definisi. Tidak tertutup kemungkinan software AV ini ditingkatkan lebih advanced dalam hal engine scannernya.
METODELOGI PENELITIAN KOMUNIKASI (ANALISIS ISI, WACANA , SEMIOTIKA FRAMING, KEBIJAKAN REDAKSIONAL, DAN ANALISIS KORELASIONAL)
Analisis Isi Analisis isi (Content Analysis) adalah tekhnik penelitian untuk membuat inferensi – inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun nonverbal. Sejauh ini, makna komuniaksi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi. Sebenarnya analisis isi komunikasi amat tua umurnya, setua umur manusia. Namun, panggunaan teknik ini diintoduksikan di bawah nama analisis isi (content analysis) dalam metode penelitian tidak setua umur penggunaan istilah tersebut. Tuanya umur penggunaan analisis isi dalam praktik kehiudupan menusia terjadi karena sejak ada manusia di dunia, manusia saling menganalisis makna komunikasi yang dilakukan antara satu dengan lainnya. Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian justru muncul dari orang seperti Bernard Berelson (1959). Ia telah menaruh banyak perhatian pada analisis isi. Berelson mendefinisikan analisis isi dengan: content anlysis is a research technique for the objective, systematic, and quantitative description of the manifest content of communication. Tekanan Berelson adalah menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis, dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Kendatipun banyak kritik yang dapat kita sampaikan pada definisi Berlson sehubungan perkembangan analisis isi sampai hari ini, namun catatan mengenai objektif dan sistematik dalam menganalisis isi komunikasi yang tampak dalam komunikasi, menjadi amat penting utnuk dibicarakan saat ini. Analisis isi dapat di pergunakan pada teknik kuantitatif maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti memanfaatkannya. Dalam penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi. Karya-karya besar dalam penelitian kualitatif tentang penggunaan analisis isi seperti yang dilakukan oleh Max Weber dalam bukunya The proestant ethic dan the spirit of capitalism. Dalam karya ini Max Weber berusaha menentukan apa yang di maknakan dengan “Spirit of capitalism” terutapa dari apa yang di tulis oleh Benyamin Franklik. Namun, Weber lebih banyak bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan tipe-tipe ideal (ideal types) dari sekadar menghasilkan suatu deskripsi objektif dan sistematis dari tulisan Franklin. Jadi, dalam menyifatkan “Protestan ethic dan spirit of capitalism”, maka Weber mengkaji isi tulisan Franklin secara ideal. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena Weber tidak percaya bahwa realitas historis adalah seperti yang dideskripsikan dalam tipe-tipe ideal yang diciptakan, seperti ascetism, rational organization of labour, dan lainnya. Selain itu penggunaan analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja, karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu. Penggunaan analisis isi untuk penelitian kualitatif tidak jauh berbeda dengan pendekatan lainnya. Awal mula harus ada fenomena komunikasi yang dapat diamati, dalam arti bahwa peneliti harus lebih dulu dapat merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan semua tindkan harus didasarkan pada tujuan tersebut. Langkah berikutnya adalah memilih unit analisis yang akan di uji, memilih objek penelitian yang menjadi sasaran analisis. Kalau objek penelitan berhubungan dengan data-data verbal (hal ini umumnya ditemukan dalam analisis isi), maka perlu disebutkan tempat, tanggal, dan alat komunikasi yang bersangkutan. Namun, kalau objek penelitian berhubungan dengan pesan-pesan dalam suatu media, perlu di lakukan identifikasi terhadap pesan dan media yang mengantarkan pesan itu. Penggunaan analisis isi dapat dilakukan sebagaimana pual W.Missing melakukan studi tentang “The Voice of America”. Analisis isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga di catat konteks mana istilah itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan. Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satauan makna berbungan dengan tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap klasifikasi. Kemudian, satuan makna dan kategori dianalisis dan di cari hubungan satu dengan lainnya untuk menemukan makna, arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil analisis ini kemudian dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitian sebagaimana umumnya laporan penelitian. Beberapa Bentuk Klasifikasi Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis menjelaskan klasifikasi sebagai berikut: 1. Analisis isi pragmatis, dimana klasifikasi dilakukan terhadap tanda menurut sebab akibatnya yang mungkin. Misalnya, berapa kali suatu kata diucapkan yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka terhadap produk sikat gigi A. 2. Analisis isi semantik, di lakukan untuk mengklasifikasikan: tanda menurut maknanya. Analisis ini terdiri dari tiga jenis sebagai berikut: 1. Analisis penunjukan (designation), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, atau konsep) dirujuk. 2. Analisis penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi dirujuk (misalnya referensi kepada ketidakjujuran, kenakalan, penipuan, dan sebagainya). 3. Analisis pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini secara kasar di sebut analisis tematik. Contohnya, referensi terhadap perilaku nyontek di kalangan mahasiswa sebagai maling, pembohong dan sebagainya 1. Analisis sarana tanda (sign-vechile), dilakukan untuk mengklasifikasi isi pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali kata cantik muncul, kata seks muncul. Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi itu terbaca dalam interaksi sosial, dan bagimana simbol-simbol itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya, kredebilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya. Dapat dipahami bahwa makna simbol dan interaksi amat majemuk sehingga penafsiran ganda terhadap objek simbol tunggal umumnya menjadi fenomena umum dalam penelitian sosial. Oleh karena itu , analisis isi menjadi tantangan sangat besar bagi peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman dasar terhadap kultur dimana komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap berbagai macam bentuk komunikasi di masyarakat. Pada penelitian kualitatif, terutama dalam strategi verifikasi kualiatif, teknik analisis data ini diangap sebagai teknik analisis data yang sering digunakan. Namun selain itu pula, teknik analisis ini dipandang sebagai teknik analisis data yang paling umum. Artinya, teknik ini adalah yang paling abstrak untuk menganalisis data-data kualitatif. Content analysis berangkat dari anggapan dasar dari ilmu-ilmu sosial bahwa studi tentang proses dan isi komunikasi adalah dasar dari studi-studi ilmu sosial. Deskripsi yang diberikan para ahli sejak janis (1949), Berelson (1952) sampai Lindzey dan Aronso (1968) tentang Content Anlysis, selalu menampilkan tiga syarat, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi. Analisis isi sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis data ini sesungguhnya sama dengan kebanyakan analisis data kuantitatif. Peneliti memulai analisisnya dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasikan data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang tertentu pula. Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan Teknik Content Analysis. Analisis Wacana Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang digunakan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar penutur. Senada dengan itu, cocok dalam hal ini menyatakan bahwa analisis wacana itu merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Menurut Stubbs (Arifin,2000:8). Analisis wacana dalam Sobur ( 2006:48) adalah studi tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, telaah mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Kajian tentang pembahasaan realitas dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tuklisan, situasi dan kondisi (konteks) seperti apa bahasa tersebut diujarkan akan membedakan makna subyektif atau makna dalam perspektif mereka. Crigler (1996) dalam Sobur (2006 : 72) mengemukakan bahwa analisis wacana termasuk dalam pendekatan konstruktionis. Ada dua karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis yaitu : 1. Pendekatan konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas politik. 2. Pendekatan konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai suatu proses yang terus menerus dan dinamis. Dari sisi sumber (komunikator), pendekatan konstruksionis memeriksa pembentukan bagaimana pesan ditampilkan, dan dari sisi penerima ia memeriksa bagaimana konstruksi individu ketika menerima pesan. Kembali pada anilsa wacana yang sesungguhnya berusaha memahami bagaimana realitas dibingkai, direproduksi dan didistribusikan ke khalayak. Analisis ini bekerja menggali praktek-praktek bahasa di balik teks untuk menemukan posisi ideologis dari narasi dan menghubungkannya dengan struktur yang lebih luas. Dengan demikian analisis wacana merupakan salah satu model analisa kritis yang memperkaya pandangan khalayak bahwa ada keterkaitan antara produk media, ekonomi dan politik. Keterkaitan ini dapat dimunculkan pada saat analisis wacana bergerak menuju pertanyaan bagaimana bahasa bekerja dalam sebuah konteks dan mengapa bahasa digunakan dalam sebuah konteks dan bukan untuk konteks yang lain. Pada dasarnya ada beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut. Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi. Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi). Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi. Analisis Semiotik (Semiotic Analysis) Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik. Berkenaan dengan hal tersebut, analisis semiotik merupakan upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih luas dari hal tersebut adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau fungsi sebagai tanda. Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik merupakan bagian dari obyek yang dikaji dalam semiologi. Selain bahasa yang merupakan representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna tertentu, obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik. Salah seorang sarjana yang secara konservatif menjabarkan teori De de Saussure ialah RolandBarthes (1915 – 1980). Ia menerapkan model Ferdinand De Saussure dalam penelitiannya tentang karya -karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen – komponen tanda penanda – petanda terdapat juga pada tanda -tanda bukan bahasa antara lainterdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem citra dan kepercayaan yang dibentukmasyarakat untuk memp-ertahankan dan menonjolkan identitasnya (de Saussure,1988). Selanjutnya Barthes (1957 dalam de Saussure) menggunakan teori signifiant - signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabaha sa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) ter-tentu, sehingga membentuk tanda ( sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya. Macam-macam Semiotik Hingga saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang (Pateda, dalam Sobur, 2004). Jenis -jenis semiotik ini antara lain semiotik analitik, diskriptif, faunal zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial, struktural. 1. Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem tanda. Peirce mengatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, obyek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada obyek tertentu. 2. Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang. 3. Semiotik faunal zoosemiotic merupakan semiotik yang khusus memper hatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Semiotik kultural merupakan semiotik yang khusus menelaah system tanda yang ada dalam kebudayaan masyarakat. 4. Semiotik naratif adalah semiotik yang membahas sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan c erita lisan (folklore). 5. Semiotik natural atau semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik normative merupakan semiotik yang khusus membahas sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma. 6. Semiotik sosial merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang kata maupun lambing rangkaian kata berupa kalimat. Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah system tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa. Analisis Framing Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media. Analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran. Teknik Framing Dan Konsep Model Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik, yakni pertama, problem identifications yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, causal interpretations yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap penyebab masalah, treatmen rekomnedations yaitu menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulannya, moral evaluations yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah. Ada dua konsep framing yang saling berkaitan, yaitu konsep psikologis dan konsep sosiologis yaitu : 1. Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi itu menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang saat membuat keputusan tentang realitas. 2. Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki, kedua konsep tersebut diintegrasikan. Secara umkum konsepsi psikologis melihat frame sebagai persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat frame dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang. Dalam model ini, perangkat framing yang digunakan dibagi dalam empat struktur besar, yaitu sintaksis (penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita), struktur skrip (bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita), struktur tematik (bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks secara keseluruhan), dan struktur retoris (bagaimana menekankan arti tententu dalam berita) Analisa Kebijakan Redaktur Kebijakan sendiri merujuk pada tiga hal yakni sudut pandang (point of view); rangkaian tindakan (series of actions) dan peraturan (regulations). Ketiga hal tersebut menjadi pedoman bagi para pengambil keputusan untuk menjalankan sebuah kebijakan. Dan seorang Redaktur merupakan suatu pimpinan sekaligus penanggung jawab dalam suatu media. Oleh karenanya Analisa Kebijakan Redaktur merupakan suatu proses analisa mengenai kebijakan redaktur dalam proses penerbitan suatu media. Dalam proses analisa kebijakan, terdapat dua pendekatan yaitu: 1. Analisis proses kebijakan (analysis of policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas proses perumusan, penentuan agenda, pengambilan keputusan, adopsi, implementasi dan evaluasi dalam proses kebijakan. Jika dilihat dari item analisisnya, pendekatan ini lebih melihat kandungan (content) sebuah proses kebijakan. 2. Analisis dalam dan untuk proses kebijakan (analysis in and for policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas teknik analisis, riset, advokasi dalam sebuah proses kebijakan. Nampaknya, pendekatan ini cenderung melihat prosedur proses kebijakan. Hasil analisis kebijakan adalah informasi yang relevan bagi pihak-pihak yang akan melaksanakan kebijakan. Analisis bisa dilakukan pada semua tahap proses kebijakan Analisis pada tahap selanjutnya mencakup interpretasi dan sosialisasi kebijakan, merencanakan serta menyusun kegiatan implementasi kebijakan. Hasil analisis pada tahap ini adalah aksi kebijakan (policy action). 3. Analisis berikutnya adalah evaluasi implementasi kebijakan dengan memperhatikan tingkat kinerja dan dampak sebuah implementasi kebijakan. Hasil analisisnya berupa informasi kinerja yang akan menjadi dasar tindakan apakah kebijakan tersebut akan diteruskan atau sebaliknya. Tipe Analisis Kebijakan Tipe analisis kebijakan dikategorikan menjadi dua tipe yaitu: 1. Tipe analisis akademis. Tipe analisis ini berfokus pada hubungan antara faktor determinan utama dengan isi kebijakan dan berusaha untuk menjelaskan hakikat, karakteristik dan profil kebijakan dan bersifat komparatif baik dari segi waktu maupun segi subtansi. 2. Tipe analisis terapan. Tipe analisis ini lebih memfokuskan diri pada hubungan isi kebijakan dengan dampak kebijakan serta lebih berorientasi pada evaluasi kebijakan dan bertujuan untuk menemukan alternatif lebih baik dan bisa menggantikan kebijakan yang sedang dianalisis. Elemen dalam Kebijakan yang Menjadi target analisis Terdapat tiga elemen dalam kebijakan yang menjadi target analisis, yakni: 1. faktor determinan utama; 2. isi kebijakan; dan 3. dampak kebijakan baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Analisa Korelasional Analisa Korelasional adalah analisa yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Analisa korelasional/hubungan/assosiasi dapat dikatakan merupakan pengembangan dari analisa deskriptif (untuk selanjutnya baca : deskriptif-kuantitatif), kalau dalam penelitia deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut. Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb. Terdapat beberapa perbedaan yang membedakan Analisa Korelasional dan Analisa Deskriptif yaitu bahwa dalam analisa deskriptif tidak membahas tentang hubungan antar variabel, sedangkan kalau kita lihat dari jenis datanya sama, yang membedakan adalah sifat-sifat analisanya, analisa deskripsi mendeskripsikan variabel dan karakteristik responden, sedangkan analisa korelasional meneliti bagaimana untuk memperoleh kejelasan ada tidaknya hubungan antar variabel dan karakteristik responden seperti apa dalam konteks penelitian tersebut. Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi). Perbedaan tersebut dapat terlihat dari analisa deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Analisa korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut. Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb. Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi). Penelitian korelasi (secara statistik) menunjukkan adanya ko-variasi (sebaran data yang sama) antar variabel, apakah variasi-variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor yang lain, yang mana hubungan tersebut kemungkinan merupakan : 1. “ ko-variasi antar variabel dari penyebab (dependen) yang sama” 2. “ko-variasi antar variabel akibat (independent)” , atau 3. atau mungkin korelasi tersebut sifatnya “hanya kebetulan saja”. Untuk memperoleh informasi yang akurat tentang dugaan hubungan antar variabel tersebut dapat perpedoman pada teori (konsep dan proposisi), model, atau melakukan penelitian secara intensif dan mendalam. Penelitian asosiasi atau korelasi sering dikaburkan dengan penelitian/analisis causal (sebab-akibat), korelasi yang kuat dianggap adanya hubungan sebab-akibat. Hubungan kausal dapat diinterpretasikan pasti “ada hubungan” yang sifatnya kausalitas, tetapi kalau “ada hubungan” belum tentu adanya kausalitas. Kita sering terjebak dengan proses berfikir yang nampaknya logis atau cara berfikir linier, hal inilah yang perlu dicermati, khususnya dalam perumusan masalah. Jika ada kesalahan dalam membuat perumusan masalah, alih-alih pertanyaan yang salah tentang obyek yang kita teliti tidak akan menghasilkan jawaban yang benar. Sebagai Contoh, pernyataan : 1. Pengaruh “kemampuan membaca” terhadap “lamanya belajar Mahasiswa” 2. Hubungan antara “kemampuan membaca”dengan “lamanya belajar Mahasiswa” 3. Pengaruh “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar Mahasiswa” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”. Adanya hubungan antara “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar” jangan diinterpretasikan bahwa “lamanya belajar” disebabkan oleh “kemampuan membaca”. Atau “Lamanya Belajar” diakibatkan oleh “ Kemampuan membaca”. Mahasiswa yang “lama belajar” belum tentu atau bukan karena “kemampuan membacanya yang kurang”, tetapi (diduga) karena akan mengikuti UTS, karena ingin bisa, lagi tertarik dsb. Bandingkan dengan; Pengaruh “kemampuan membaca” dan “ lamanya belajar” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”. Jika kita perhatikan dengan seksama, dari ketiga pernyataan tersebut yang secara logika mana yang lebih dapat diterima dan benar. Dengan demikian tipe hubungan antar variabel dalam penelitian korelasional adalah hubungan simetri, adalah jenis hubungan antar variabel yang mana suatu variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel yang lain atau tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hal ini dapat terjadi apabila : 1. Kedua variabel tersebut merupakan dimensi/indikator untuk konsep yang sama, misalnya : Hubungan antara frekuensi penggunaan media, durasi (lama), pilihan jenis media dan jenis isi sebagai indikator dari pola penggunaan media dsb. 2. Sebagai akibat dari faktor yang sama, Misalnya; Penguasaan materi, lulus mata kuliah, IP bagus sebagai akibat yang sama karena rajin membaca/belajar dsb. 3. Berkaitan secara fungsional, apabila keberadaan sesuatu hal diikuti oleh keberadaan yang lainnya atau sebaliknya. Misalnya : ada mahasiswa ada dosen, ada asap – ada api, ada pekerja – ada majikan, ada pimpinan – ada bawahan, dsb. 4. Hubungan yang sifatnya kebetulan saja. Misalnya; hubungan mimpi buruk dengan kehilangan HP, hubungan berkokok-nya ayam dengan terbitnya matahari, dsb. Analisis Data dalam Analisa Korelasional Dalam melakukan analisis data yang perlu diperhatikan adalah : 1. Masalah dan Tujuan penelitian; 2. Hubungan antar variabel (hipotesis penelitian) yang dalam analisa statistik sebagai hipotesis statistik (Ho dan H1); 3. Jenis informasi dan jenis data; apakah data yang kita peroleh sebagai data nominal, ordinal, interval atau rasio; 4. Kesesuaian antara jenis data dengan jenis analisa statistik yang digunakan; 5. Taraf signifikansi (α) atau tingkat kepercayaan (1- α); 6. Berbagai variasi analisis data berdasarkan kebutuhan dsb. Alat analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan dua atau lebih variabel. Korelasi antar dua variabel disebut korelasi sederhana, dan korelasi lebih dari dua variabel disebut korelasi berganda (multiple Correlation). Sehingga alat anlisa ada rumus untuk menghitung korelasi sederhana dan berganda. Berbagai variasi alat analisa korelasi tergantung dari hubungan antar variabel dan jenis data, apakah nominal, ordinal atau interval dan tujuan penelitian kita. Daftar Pustaka: Al Rasyid, Harun, 2000, Hand out Statistik Sosial, PPS UNPAD, Bandung. Alex Sobur, Analis is Teks Media…..hal 172 Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 155 – 156. Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 156 – 159. Dajan, Anto, 1996, Pengantar Statistik Jilid I, LP3ES, Jakarta. Dajan, Anto,1996, Pengantar Statistik Jilid II, LP3ES, Jakarta . Kriyantono, Rachmat, 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm.247-251 Rakhmat ,Jalaludin, 1999, Metode Penelitian Komunikasi, Rosdakarya, Bandung . Sudradjat M,2002, Metode Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala, UNPAD Bandung. Wimmer D. Roger, 1987, Mass Media Research, Wadsworth Publisher Company, Belmont, California .